Rabu, 20 Juni 2012

Pemandangan Indah Di Gua “Durian Biro”




Suasana yang gelap dan menyeramkan saat kami, tim Eksplorasi Gua Mapala Kumtapala Fakultas Hukum Univ. Tadulako,  tiba di mulut Gua Durian Biro, Dusun Pakela, Desa Polewali Kecamatan Bambalamotu Kabupaten Pasangkayu Propinsi Sulawesi Barat. Kegiatan  ini berlangsung selama tiga hari, dimulai dari tanggal 15 – 17 Juni 2012. 

Diskusi Bersama Warga
Kami yang terbentuk satu tim, terdiri dari tujuh orang ini, star dari Base Camp Mapala Kumtapala pada pukul 16.05 wita. Menuju kelokasi kegiatan yang, berbatasan dengan Propinsi Sulawesi Tengah, dengan jarak tempuh mencapai kurang lebih 4 jam lamanya dengan, memakai sepeda motor. 

Jalan yang begitu mulus, namun berdebu, saat memasuki Kabupaten Donggala. Debu-debu itu seakan setia menemani kami sepanjang jalan, sehingga menyebabkan mata memerah dan menghalangi laju motor kesayangan kami. Debu itu, diciptakan oleh “mobil besar” milik beberapa perusahaan galian C, yang senantiasa mengangkut material. 

Foto Bareng; Tim Eksplorasi
Tepat pukul 19.15 wita, tim eksplorasi gua, tiba di Desa Polewali. Rumah kepala desa menjadi sasaran tim saat itu. Kepalan tangan semakin menjadi-jadi dari semua tim eksplorasi. Dingin, teramat dingin suhunya, mengakibatkan kami sesekali meloncat-loncat untuk memanggil keringat dari dalam tubuh.

Dirumah kepala Desa, kami hanya berjumpa dengan seorang perempuan, sepertinya ia adalah keponakan dari kepala Desa Polewali, wajahnya yang berbinar-binar menunjukkan ketidakkenalannnya terhadap kami bertujuh. Wajah yang jarang ia lihat itu disambut dengan baik, dan dipersilahkan untuk masuk dan duduk dikursi sofa. Ditengah diskusi yang alurnya tidak tahu kemana, tiba-tiba tujuh gelas kopi disodorkan dimeja yang berbentuk persegi empat, siap untuk menghilangkan dinginnya angin malam.

“Paman saya ada pergi ke Kota Palu, soalnya Bibi saya ada sakit, dan dirawat di rumah sakit,” ungkap wanita itu, sambil tersenyum malu.

Hilman: Dalam Kesenyapannya
Surat Pemberitahuan kegiatan, yang sudah kami persiapkan sebagai bentuk legitimasi kepada pemerintah desa, dengan terpaksa kami berikan ke kepala dusun Pakela, yang merupakan masuk dalam wilayah administrasi gua Durian Biro.


Pada pukul 07.35 tim bergegas berangkat kelokasi Gua, sekitar 750 meter dari perkampungan  warga. Jalur masih tertutup, untuk  mencapai mulut Gua Durian Biro itu, harus berjuang disela-sela rerumputan yang tinggi.
Dari tujuh orang tim eksplorasi hanya Annisa, atau kami sering memanggilnya Amnesti (nama lapangan), yang terlihat lelah. Badannya yang sedikit besar, membuatnya semakin tidak berdaya akan tanjakan yang tim lalui.
Gua Durian Biro, yang membutuhkan keahlian dan mental yang cukup untuk mencapainya. Sebelumnya, kami melakukan simulasi Rapelling diatas mulut gua tersebut, untuk mengingatkan kembali pada semua tim dalam hal tambat-menambat. Tidak berbeda dengan pengalaman-pengalaman menelusuri gua lainnya, bahwa kotoran kelelawar nakal tumpah ruah di lantai-lantai gua tersebut. Keringat-pun sudah mulai bercucuran, ketika matahari timbul dari balik gunung yang menyinari kami.

Kondisi gua, tim masuk melalui jalur vertikal sekitar dua meter. Tanpa mendapatkan kendala melalui jalur Vertikal itu, tim mendapatkan jalur horizontal. Ornamen-ornamen gua-pun menjadi ciri khas yang menghiasi gua “calon” objek wisata alam dikemudian hari. Belum lagi, aliran sungai yang begitu indah untuk dipandang, senantiasa untuk menghiasi dalam gua tersebut. Memang, menjadi keunikan tersendiri, dari berbagai gua yang telah kami jamah. Kelelawar bergelantingan di atas pelafon gua dengan ketinggian sekitar lima meter, seakan-akan bernyanyi untuk menyambut kedatangan tim sesuai dengan adat mereka.

Pemetaan
Dihari pertama ini, kami mengikuti aliran sungai yang cukup besar, berliku-liku seperti kris sang pangeran. Aliran sungai yang kami perkirakan akan bermuara kelaut itu, cukup menghibur jiwa dan mata kami. Aula yang tersedia dalam gua tersebut bisa digunakan untuk lapangan sepak takraw, berdiameter 10. Dalam gua tersebut kami melakukan pemetaan, mendata biota dalam gua, diantaranya : Kelelawar, Lipan, Jangkrik, Belut, katak, semut, udang dan, ular. Data ini kami ambil untuk menjadi bahan kelengkapan Dokumentasi Mapala Kumtapala.

Hari sudah mulai gelap, matahari terbenam mengikuti alur jam bumi, saat salah satu orang tim yang bertugas menjadi bankom dimulut gua mengatakan, melalui alat komunikasi. Tim bersiap untuk kembali kerumah kepala dusun, setelah seharian penuh berjuang menelusuri gua yang nan indah itu. 

Pada pukul 18.49 tim berdiskusi dengan warga setempat. Suasana diskusi cukup alot. Menunjukkan, bahwa kepekaan dan harmonisasi warga untuk tetap melindungi gua yang mereka anggap keramat itu semakin kuat. Hal ini ditunjukkan dari mimik wajah dan cara berbicara pada tim eksplorasi. Mereka, seakan-akan tidak rela gua tersebut dialih fungsikan menjadi lahan pertambangan, sebagaimana yang terjadi di Kabupaten Luwuk. 

Hari ini, hari yang cerah. Secerah wajah “Lionel Messi” ketika menjebol gawang lawan dilapangan hijau. Burung-burung yang cantik dengan suara merdunya menghiasi suasana dinginnya ditanggal 17 Juni 2012 ini. Suara gelas kaca, yang saling bertabrakan sudah terdengar ditelinga kami. Sepertinya “Kopi” khas Sulawesi Barat akan masuk ditenggorokan kami dipagi itu. 

Yaaaa…!!!! Kami sudah menebaknya, seorang ibu yang umurnya sekitar 50 tahunan itu, dengan lenggak-lenggoknya mengimbangi tujuh gelas kopi yang dibawah secara bersamaan diatas Baki  berwarna merah. 

Karena keasyikan berdiskusi dengan warga yang bersilaturahmi ke rumah kepala dusun itu. Tim berangkat ke lokasi gua pukul 09.56.  Tidak  ada perbedaan dengan kondisi kemarin. Namun, saat ini kami langsung masuk ke dalam gua, untuk memetakan dan mencari aula-aula yang baru. 

Ketua tim, Muh. Rifky, memimpin doa sebelum masuk kedalam gua. Hal yang sama juga dilakukan kemarin.
“Dengan masing-masing keyakinan yang teguh, akan mengeluarkan sebuah energi keberanian. Keberanian ini yang kemudian menjadi modal nomor kesekian, untuk menembus jalur-jalur yang ada didepan,” ungkap Kiky.

Gua yang sesekali menyebabkan banjir itu, menjadi kekhawatiran tim ketika datang hujan. Karena menurut warga setempat, bahwa gua itu sudah beberapa kali didatangi banjir. Baju, kayu dan berbagai macam yang tersangkut dalam gua tersebut menandakan bukti telah terjadinya banjir. Saluran air yang diapit oleh lorong-lorong yang sangat sempit sehingga, menyebabkan kami harus caving mencapai finish gua tersebut.

Stalaktik dalam gua itu begitu kurang. Stalaktit berupa jenis speleothem (mineral sekunder) yang menggantung dari langit-langit gua kapur. Ia termasuk dalam jenis batu tetes (bahasa Inggris: dripstone.) Sedangkan Stalakmit merupakan pasangan dari stalaktit, yang tumbuh di lantai gua karena hasil tetesan air dari atas langit-langit gua.

Sebelumnya warga yang bertempat tidak jauh dari lokasi gua itu, telah didatangi oleh orang yang bertingkah aneh. Katanya ingin meneliti fosil atau peninggalan-peninggalan sejarah dalam gua itu.

Tidak ada komentar: